2. Perumusan Masalah
Seperti telah disebutkan di atas, masalah penelitian tindakan yang merupakan kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan hendaknya dideskripsikan untuk dapat merumuskannya. Pada intinya, rumusan masalah harus mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan.
Dalam rumusan masalah ada deskripsi tentang keadaan nyata dan deskripsi tentang keadaan yang diinginkan dan kesenjangan antara dua keadaan tersebut merupakan masalah yang harus diselesaikan dengan menutupnya melalui tindakan yang sesuai. Bagaimana PTKa mengatasinya Karena penelitian tindakan merupakan kegiatan akademik dan profesional, seorang peneliti memerlukan kajian teoretis dari pustaka yang relevan untuk dapat melakukan PTK yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitiannya. Kajian teori/Pustaka hendaknya mencakup teori-teori dan hasil penelitian yang relevan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa teori dalam penelitian tindakan bukan untuk diuji, melainkan untuk menuntun peneliti dalam membuat keputusan-keputusan selama proses penelitian berlangsung. Wawasan teoretis sangat mendukung proses analisis masalah.
Pada akhir tinjauan pustaka, peneliti tindakan dapat mengajukan kerangka berpikir dan hipotesis tindakan atau pertanyaan penelitian.
3. Analisis Masalah
Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui demensi-dimensi masalah yang mungkin ada untuk mengidentifikasikan aspek-aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai.
Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, bergantung pada kesulitan yang ditunjukkan dalam pertanyaan masalahnya; analisis sebab dan akibat tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat kajian terhadap data penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah perspektif orang-orang yang terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya, juga kajian pustaka yang gayut.
Tabel :1 Masalah dan Rumusannya
| No. |
Masalah |
Rumusan |
| 1. |
Rendahnya keberanian mengajukan pertanyaan di kalangan siswa |
Siswa Kelas XI semester 2 mestinya telah berani mengajukan pertanyaan, tetapi dalam kenyataannya 75 % siswa kurang berani mengajukan pertanyaan |
| 2. |
Rendahnya prestasi belajar siswa pada mapel Matematik |
Siswa Kelas X mestinya 75 % mencapai KKM dalam mapel Matematik,teatapi kenyataannya hanya 50% yang mencapai KKM |
| 3. |
Rendahnya keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran bahasa
Inggris |
Siswa kelas bahasa Inggris mestinya terlibat sePTKa aktif dalam kegiatan belajar menggunakan bahasa Inggris lewat kegiatan yang menyenangkan, tetapi dalam kenyataan mereka sangat pasif. |
| 4. |
Rendahnya kualitas
pengelolaan interaksi
guru-siswa-siswa |
Pengelolan interaksi guru-siswa-siswa mestinya memungkinkan setiap siswa untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, tetapi dalam kenyataan interaksi hanya terjadi antara guru dengan beberapa siswa. |
| 5. |
Rendahnya kualitas
proses pembelajaran
bahasa Inggris ditinjau dari tujuan
mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam
bahasa tersebut |
Proses pembelajaran bahasa Inggris mestinya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan bahasatsb.secara komunikatif, tetapi dalam kenyataannya kegiatan pembelajaran terbatas pada kosakata, lafal dan struktur. |
| 6. |
Rendahnya kemandirian belajar siswa di suatu sekolah menengah atas. |
Kemandirian belajar siswa SLTP mestinya telah berkembang jika kegiatan pembelajarannya mendukungnya, tetapi dalam kenyataannya dominasi peran guru telah menghambat perkembangannya |
3. Alternatif Tindakan
Alternatif tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan Continue reading →